Rabu, 05 Oktober 2011

CERITA BARU DARI POTRET USANG


CERITA BARU DARI POTRET USANG

Semilir angin senja menyelinap masuk ke dalam kamarku melalui sela-sela jendela yang belum sempat dikunci dan membuatnya bergoyang pelan seolah-olah melambaikan salam perpisahan pada matahari. Awan-awan berarak cepat dikejar kegelapan yang akan segera nampak. Burung-burung kecil masih tetap terbang hilir mudik mengantar sang surya kembali ke peraduannya. Beberapa bersiul saling memacu menciptakan harmonisasi nada yang menyejukkan hati. Tak ada keriuhan di sini. Hanya sepi dan damai. Aku masih saja menatap potret dua sahabat dalam bingkai usang yang tak pernah ku pindahkan dari meja belajarku sejak 4 tahun yang lalu. Duduk termangu di tepi ranjang reot yang sesekali menjerit kecil. “Kreet”. Aku beranjak dari duduk dan kuraih bingkai itu. Kutiup pelan untuk menghapus debu-debu yang menempel. “Liod!” lirihku. Kuraba potret itu. Dua orang sahabat kecil -aku dan Liod- berangkulan dan tersenyum riang.
Lima tahun yang lalu -ketika putih-merah masih menjadi almamaterku- adalah awal perjumpaanku dengan Liod. Dia murid baru di sekolahku.
“Boleh aku duduk di sampingmu?” tanya Liod santun kepadaku.
“Ya!” jawabku lirih dengan kepala tetap ku tundukkan.
Aku dikenal sebagai anak pemalu, pendiam dan cupu di kelas. Tak heran jika aku tak mempunyai teman semeja. Tak hanya itu, aku sering menjadi bahan olok-olok temanku. Mereka mengataiku “Bon-bon cupu!” atau “Bon-bon si kutu buku!”. Walaupun demikian, prestasiku di bidang akademik cukup baik. Sejak kelas 1 aku selalu masuk peringkat tiga besar di kelas.
“Liod. Lengkapnya Liod Hermawan...”  ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Aaakuu... Bboni...” ucapku terbata-bata.
“Kau kenapa? Sakit?” tanya Liod dengan nada lembut.
Aku terdiam. Aku tidak terbiasa berbicara dengan siapapun di kelas ini.
“Kenapa, Bon?” ucapnya sekali lagi mengharapkan jawaban dariku.
“Orang bisu kau ajak berbicara... Ha...” ejek Adit diikuti tawa terbahak-bahaknya dan tawa sebagian siswa kelas V.1. Mukaku memerah. Liod menoleh ke arah Adit. Tanpa berkata sepatah katapun Liod berpaling kembali kepadaku.
“Kau kenapa?” tanyanya sekali lagi. Liod memegang kedua bahuku dan menggunncangnya pelan.
“Ttaak aapa, Li.. liod! Aku baik-bbaik saja...” sanggahku.
Liod terdiam sejenak dan terus memegangi bahuku. Dia tetap menatap mukaku.
“Kau seperti ketakutan...” ucapnya seolah-olah dia mengetahui ketidak nyamananku berada di sini.
Teng-teng-teng... Bunyi bel penanda jam pertama dimulai berbunyi.
“Lupakanlah...” ucapku pelan dan hampir seperti tak bersuara namun dengan nada suara yang lebih tenang dan tidak segugup sebelumnya. Akuu menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil. Liod melepaskan pegangannya.
 Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kelas, mengucapkan salam dan masuk. Tanpa harus melihat siapa orang itu aku sudah tahu bahwa dia itu Bu Ros dari suara dan cara dia mengucapkan salam. Keriuhan kelas terbius dalam sekejap.
“Silakan berdoa terlebih dahulu...” ucapnya mempersilakan kami berdoa sebelum belajar dimulai.
Reza si ketua kelas segera memimpin kami berdoa dan mengucapkan salam.
“Perhatian...! Sebelum belajar marilah kita berdoa......... Selesai... Ucapkan salam!” tuntunnya.
Bu Ros mengabsen satu per satu murid. Setelah semua murid terabsen bu Ros beranjak dari duduknya dan menatap sekeliling kami seperti mencari seseorang. Kemudian tatapannya terhenti pada Liod.
“Anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru... Liod, silakan perkenalkan dirimu...” bu Ros mempersikan Liod untuk memperkenalkan diri.
Liod segera bangun dari duduknya dan melangkah ke depan kelas.
“Namaku Liod Hermawan. Panggil saja aku Liod. Aku pindah ke sini karena ikut ayahku yang dipindah tugaskan. Ayahku seorang TNI. Aku tinggal di belakang sekolah ini...” ucapnya lantang memperkenalkan diri.
Aku kagum sekali dengan caranya memperkenalkan diri. Dia tak terlihat gugup sedikitpun berbicara di depan orang banyak yang baru pertama kalinya ia jumpai.
“Caramu memperkenalkan diri bagus sekali...” ucapku memberanikan diri ketika Liod duduk kembali di kursinya. Liod tersenyum kecil.
“Thanks, Bon!” balasnya sambil menatap
mataku dan seolah-olah mengirim suatu pesan kepadaku. “Aku ingin menjadi temanmu... Kau kesepian, bukan?” begitulah kira-kira.
Teng-teng-teng... Bel pulang berbunyi. Semua siswa membludak keluar kelas berbarengan.
“Bon, tunggu!” Tepukan Liod di pundak belakang menghentikan langkahku. Kuputar badan.
“Bisakah kita mengobrol sebentar?” tanyanya dengan penuh harap.
Aku berpikir sejenak. Biasanya aku segera pulang ke rumah setelah bubar sekolah.
“Mengenai apa?” tanyaku ringan.
“Mengenai kita...” jawabnya secepat kilat. Dia menuntunku untuk duduk di bangku koridor di depan kelas.
 “Aku ingin mengenalmumu lebih jauh lagi. Lebih dari hanya teman sebangku... Mmm.. Aku kagum dengan caramu menyelesaikan soal matematika tadi... Bisakah kita berteman...?”
“Kau ingin mengenalku dan berteman hanya gara-gara aku dapat menyelesaikan soal matematika tadi?” tetap dengan nada suaraku yang rendah.
“Tidak, Bon! Mmm.. Bukan itu maksudku bon...” Liod terlihat panik karena khawatir aku salah menafsirkan permintaannya.
“Lalu apa? Kenapa kau mau berteman denganku sedangkan orang-orang di kelas tidak ada yang mau berteman denganku. Mereka menjauhiku. Mereka memanggilku “cupu”. Mereka mengolok-olok aku..” nada bicaraku mulai meninggi dan emosiku mulai meluap.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” nadanya lirih dan lebih rendah dari sebelumnya.
Aku beranjak dari dudukku dan melangkah bermaksud pulang tanpa menghiraukan pertanyaannya. Aku tak marah sedikitpun kepadanya. Hanya saja pertanyaannya membuatku teringat akan perlakuan yang kuterima di kelas selama ini. Hal itu membuat emosiku meluap-luap.
“Bon...!” Liod menahan langkahku dengan memegang bahuku. Dia membalikkan badanku lagi.
“Menagis saja kalau kau ingin menangis... Aku mengerti keadaanmu, Bon...” ucapnya lembut.
Emosiku terus meluap, tetesan air mata tak bisa kubendung lebih lama lagi. Pertanyaannya membuatku teringat akan semua perkataan dan perbuatan teman-teman sekelasku.
“Ini....” ucapnya sambil menyodorkan sehelai sapu tangan bertuliskan LIOD di ujungnya. Mungkin itu dirajut ibunya.
Ku sapu air mataku.
“Percayalah... Aku akan menjadi temanmu yang baik... Tenangkan dirimu....” Liod menuntunku duduk kembali. Sudah tak ada siswa lain kecuali kami berdua. Tak terdengar lagi keramaian lorong dan keriuhan kelas seperti biasanya.
Liod merangkulkan tangannya dipundakku. Dia terdiam selama aku menangis.
 “Sudahlah kawan... Aku ini lelaki...” ucapku dengan nada sedikit terisak-isak karena habis menangis. Liod tersenyum.
“Heii... Kau memanggilku kawan?” nada suaranya terdengar bersemangat. Aku hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum.
“Itu artinya... Iya?” tanyanya memastikan.
“Kursi di sebelahku sudah lama merindukan seorang penghuni... haha..” ucapku dan iringi tawa kami berdua.
“Oke... Mulai hari ini kita teman!” Liod terdengar semakin bersemangat. “Mari tos...”
Dia menarik tangan sebelah kananku dengan tangan kirinya kemudian dituntunnya untuk melalukan gerakan menepuk tangan kanannya. “Plukk”. Kami tos, tanda awal pertemanan aku dan Liod.
~oOo~
“Bon-bonnnn...!”
Teriakan seseorang membangunkan lamunanku. “Huhh... Bunda mengganggu acara nostalgiaku...” gumamku.
“Ya, bunn...!” jawabku membalas teriakan bunda.
“Tutup jendela kamarmu, Bon! Lekas mandi dan bersiaplah pergi sembahyang ke mesjid bersama ayah...” nada suara bunda tidak setinggi sebelumnya.
Kuletakkan bingkai itu. Kupandangi sebentar kemudian membalikkan badan. Aku berjalan kearah pintu, kutarik sedikit selebar diameter kepalaku lebih sedikit. Kepalaku ku keluarkan sementara badan tetap di dalam.
“Siap nyonya...!!!” balasku kembali dengan nada sedikit menggoda.
Aku masuk kembali ke kamar. Kulirik jam dinding. Pukul 17.30. Segera kututup jendela kamar dan kuraih handukku. Kemudian berlari secepat kilat menuju kamar mandi.
~oOo~
 “Bon tadi Pak Dodi menelepon...” ucap bunda mengagetkan sekaligus menghentikan langkahku yang tinggal  satu meter dari pintu kamar sepulang dari kamar mandi. Aku membalikan badan dan kulihat bunda sedang asyik membaca tabloidnya di sofa ruang tamu. Memang kamarku berada di bagian depan rumah tepat bersebelahan dengan ruang tamu.
“Dia menintipkan pesan untukmu... Besok kau ke rumahnya jam 9.00 pagi. Festival seni sekolah tinggal dua hari lagi... Kau harus rajin berlatih....” ucap bunda menyampaikan pesan Pak Dodi, guru mata pelajaran seni dan budaya sekaligus pembina kelompok seni di sekolah.
“Yappp... Berlatih dan berlatih lagi... Kalau begini aku tak bisa menikmati hari mingguku dong...” keluhku dalam hati. Kulanjutkan langkahku tanpa berkomentar apapun mengenai pesan yang disampaikan bunda.
“Bunda jangan mengintipku ya... Aku mau ganti pakaian... haa.. ha..” ucapku menggoda bunda kembali sebelum menutup pintu kamarku.
Tak lupa aku kunci pintu kamarku khawatir ada orang yang menerobos masuk tanpa sepengetahuanku ketika aku sedang telanjang bulat. Bahaya, bukan? Lantas ku buka lemari pakaian dan berusaha mencari baju koko yang akan ku kenakan ke masjid.
“Ini bukan... Disini tak ada... Yang diatas sini tidak ada juga...” Ku buka lemari gantung. “Ini dia... huh...” gumamku. Ketika aku hendak menutup pintu lemari itu aku teringat akan suatu hal.
“Kurasa ada di sebelah sini...” ucapku berbicara sendiri.
“Tidak...”
Kugeledah isi lemariku berusaha menemukan barang yang ku maksud. Sebagian pakaian ku keluarkan untuk memudahkan pencarianku. Lima menit berselang tetap tidak kutemukan. “Kotak lemari bagian bawah...” seingatku.
“Ya, kurasa ada di sana”
Segera ku raih pegangan penarik kotak itu.
“Ini dia... Kaos merah hitam dari Liod....” ucapku senang.
“Sapu tangan itu pun masih ada...” lanjutku sambil melirik sapu tangan bertuliskan LIOD yang pernah diberikan Liod.
Kaos itu diberikan Liod kepadaku sehari sebelum keberangkatannya pindah ke Maluku. Dia membungkusnya dengan kotak kado berwarna putih bergambar Detective Conan, kartun jepang yang kusukai saat itu.
~oOo~
“Kau memberiku kado? Ulang tahunku kan masih jauh...” tanyaku bingung.
“Bon...” Liod berkata lirih kemudian menundukkan kepalanya.
“Ya...” jawabku. Aku tahu ada sesuatu hal yang sangat penting yang akan ia sampaikan. Raut wajah dan sikapnya menunjukkan keanehan pada malam itu.
“Kuharap kita adalah teman baik...” lanjutnya.
Aku semakin merasakan keanehan itu. Nada bicara, sikapnya, senyumannya, keceriaannya, tatapannya kepadaku dan petikan gitarnya tidak seperti biasanya.
“Mungkin ini adalah malam terakhir kau mendengar petikan gitarku...” ucapnya lirih.
Aku masih tak mengerti.
“Kenapa dengan gitarmu?” tanyaku penasaran.
Aku sangat menyukai permainan gitarnya. Diumurnya yang masih 12 tahun, ia mampu melantunkan harmonisasi nada-nada yang indah melalui petikan gitarnya. Bakatnya di dunia musik memang tidak diragukan. Selain mampu memainkan gitar, ia juga mampu bermain biola –sama seperti yang sedang kugeluti sekarang-, keyboard dan drum. Selain itu, suaranya sangat merdu dan siapapun yang mendengarnya bernyayi akan terkagum-kagum. Bahkan dua minggu sebelum kepindahannya, dia menyabet gelar juara I pemilihan penyanyi cilik berbakat se-Bandung. Mungkin darah musiknya diturunkan oleh ibunya yang juga seorang pemain biola dan piano.
“Bukan gitarku...” jawabnya masih dengan nada bicara tak seperti biasa.
Kami sama-sama terdiam dalam waktu beberapa menit. Aku tak berani memaksanya segera berbicara. Aku tahu ia sedang berperang melawan perasaannya. Liod terus saja menundukan kepalanya. Dia ingin menyampaikan sesuatu tapi masih mencari-cari cara yang tepat.
Aku semakin penasaran dibuatnya. Liod tidak pernah bertingkah seperti itu sebelumnya. Liod adalah anak yang ceria dan periang. Dia selalu menjadi orang pertama yang tahu jika aku sedang sedih. Dia juga orang pertama yang tahu bagaimana mengembalikan keceriaanku. Liod adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui. Dia mengajariku banyak hal. Mulai dari bagaimana caranya berteman dan berinteraksi dengan sekelilingku, belajar untuk tetap tegar, belajar untuk terus bersemangat, mengajariku berenang, mengajariku bermain basket, bahkan dialah yang mengenalkanku ke dunia musik dan mengajariku teknik dasar bermain biola.
Dua hari setelah pertemuan pertamaku dengan Liod, dia mengajakku ke rumahnya. Saat itu sepulang sekolah aku dan Liod langsung menuju rumahnya. Dia mengenalkanku pada ibu dan adiknya, Trisna. Namun saat itu aku tak bertemu dengan ayahnya, mungkin ia sedang bertugas. Liod mengajakku ke kamarnya. Aku terkaget. Beberapa alat musik tergeletak di sana. Keyboard, gitar, dan biola. Setelah berganti pakaian dan makan siang bersama, Liod menunjukkan kebolehannya memainkan biola. Aku terkagum-kagum dibuatnya. Dia hebat.
Esok harinya aku kembali ke rumahnya. Kali itu ia mengajariku bermain biola. Sejak saat itu aku tertarik untuk mempelajarinya. Setiap hari kusempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Liod. Tujuan utamanya untuk meminta Liod mengajariku bermain biola. Setelah beberapa minggu, nada-nada dasar biola ku kuasai. Kemudian Liod mengajakku mengikuti kelompok musik yang ia ikuti sejak awal kepindahannya. Aku setuju dan sampai saat ini aku masih tergabung dalam kelompok itu.
“Besok aku pindah...” ucapnya setelah lama terdiam. Sontak aku terkaget.
“Maksudmu? Kau sedang bergurau, Liod?” ucapku tak percaya.
Liod kembali terdiam untuk beberapa saat. “Liod akan pindah...” pikirku. Bak disambar petir di siang bolong aku menyusul kediamannya. Aku terus memikirkan ucapnnya tadi. “Liod... temanku... akan pergi...” gumamku.
“Aku tak mau berpisah denganmu, bon...” ucap Liod sedih. Aku tak lagi melihat keceriaan yang biasanya.
Aku tetap terdiam. Aku berusaha tegar agar Liod tak semakin sedih dan terbebani jika dia benar-benar akan pindah. Walaupun sebenarnya aku sangat terpukul mendengar kabar itu. Aku akan kehilangan sahabatku.
“Ayahku dipindah tugaskan...” lanjutnya.
“Tenanglah...!” ucapku berusaha menenangkannya. Ku usap-usap pundaknya berusaha membuat dia lebih tegar.
“Bagaimana aku bisa tenang bon... Kami akan pindah ke Maluku... Menyebrangi lautan... Jarak Bandung ke Maluku sangat jauh bon... Sulit untuk kita berjumpa...” ucapnya semakin sedih.
Aku semakin terpukul mendengar kabar itu.
“Maluku?”tanyaku memastikan.
“Bon... Maafkan aku...” lirihnya.
Itulah kali terakhir aku dan Liod bertemu dan mengobrol karena keeseokan paginya aku sudah tak menemukan ia  di rumahnya. Aku berniat untuk menyampaikan salam perpisahan kepadanya. Namun ketika aku sampai di depan rumahnya, aku menemukan rumahnya sudah dalam kadaan kosong. Malam itu benar-benar hubungan terakhir diantara kami. Liod tak memberikan alamat ataupun nomor telepon rumahnya di Maluku.
~oOo~
“Bon... Cepatlah! Sebentar lagi adzan...” kali ini suara ayah yang membangunkan nostalgiaku.
Segera ku kenakan sarung, koko dan peciku. Tak lupa ku raih sajadah dan kugantungkan di pundakku. Ku rapikan kembali pakaian yang berserakan. Kaos dan sapu tangan pemberian Liod ku taruh kembali ke tempat semula.
“Ayah, aku siap!” ucapku ketika tiba di ruang tamu. Ayah duduk di sofa dengan pakaian sembahyangnya. Bunda masih tetap asyik membaca tabloidnya di sebelah ayah. Sempat kulirik halaman yang dibaca bunda. Ternyata bunda sedang membaca resep-resep makanan.
“Ayo berangkat...”  ucap ayah sambil beranjak dari duduknya.
Tanpa komentar apapun aku pamit pada bunda dan ku ikuti langkah ayah.
            Sepulang dari mesjid bunda menyambut kami dengan hidangan makan malam yang menggoda selera. Dari pintu depan saja sudah kucium aroma sedap makanan kesukaanku, ayam goreng renyah dan potatoes nugget. Secepat rudal squad aku berlari ke kamar, mengganti pakaian dan meluncur ke meja makan.
            “Woww, kelihatannya lezat sekali nih, bunda!” ucapku bersemangat sambil mencubit sedikit ayam goreng renyah buatan ibu.
“Cuci tangan dulu dong bon...” sergah ibu sambil memegang tanganku ketika hendak mencubit ayam goreng itu lagi.
“Iya deh, bun....”
~oOo~
“Bon-bon.... bon-bon... bangun nak!!!”
Tok-tok-tok...
“Bon... bangun...” teriakan bunda dan bunyi pintu yang diketuknya membangunkan tidurku.
Perlahan mataku mulai terbuka. Ternyata hari sudah pagi. Sinar terang memancar masuk melalui ventilasi jendela kamarku.
            “Ya, aku bangun....” ucapku dengan nada lemah. Tidurku lelap sekali. Sehabis makan malam dan shalat isya aku langsung tertidur pulas.
“Sudah jam 9... Ini jadwalmu latihan...” lanjut bunda.
“Apa bun?” aku terperanjat dan langsung beranjak dari tempat tidurku.
“Bunda kenapa tak membangunkanku lebih pagi.. huh.. bunda!” gerutuku.
Kugeser gorden jendela. Sudah sangat terang. Kulirik jam dinding yang menunjukan pukul 08.57. Segera kutarik handuk dan berlari menuju kamar mandi. Dalam waktu sepuluh menit aku selesaikan mandiku dan berganti pakaian.
“Aku berangkat ya bun...” pamitku pada bunda sambil tergesa-gesa tapi aku tak melihat ayah, mungkin ia pergi memancing dengan temannya.
Tepat pukul 09.40 aku tiba di rumah Pak Dodi. Teman-temanku yang lain sudah berkumpul disana. Kami semua akan mengisi acara pentas seni sekolah besok. Aku didaulat tampil dua kali. Penampilan pertama adalah duetku dengan Rio, vokalis band terbaik di sekolahku. Kami akan membawakan lagu “Indonesiaku”. Penampilan yang kedua adalah duetku dengan sesama pemain biola. Dia adalah bintang tamu yang didatangkan dari Jakarta. Tapi sampai hari ini aku belum tahu siapa orangnya.
“Teman duetmu dari Jakarta akan ikut latihan bersama kita hari ini. Dia dijadwalkan tiba di Bandung siang ini...” ucap Pak Dodi disela-sela latihan.
“Wah, kamu beruntung ya Bon... Kamu bisa berduet dengan seorang pemain biola terkenal dari Jakarta...” seru Rio.
“Sudahlah, Io.. Jangan ngeledek aku terus. Aku ini sedang deg-degan.. Membayangkan bagaimanaa duetku dengannya nanti... huh...!” jawabku sambil membersihkan biola kesayanganku. Sedangkan teman-temanku yang lain sibuk dengan latihan dan alat-alat musik yang hendak mereka pergunakan esok. Disudut ruangan terlihat Pak Dodi yang tengah serius mengobrol via telepon genggamnya.
“Eh, jujur loh, Io.. Aku tidak tahu sama sekali dengan teman duetku dari Jakarta itu...” lanjutku.
“ Ah, dasar kamu, Bon... Pemain biola terkenal seperti Awan saja gak tahu...”
“Oh... Namanya Awan...” ucapku polos.
“Ah, sudahlah mari kita beristirahat dan shalat terlebih dahulu... Sudah adzan tuh...” ajak Rio sambil mengemas buku kord lagu ke dalam tas ranselnya.
~oOo~
            Latihan dimulai kembali pada pukul 14.00. Detak jantungku berpacu semakin cepat. Aku terus saja  berjalan kesana kemari dan tak bisa duduk berdiam diri.
            “Sebentar lagi pasti dia datang, bon...” ucap Rio.
            Aku semakin uring-uringan saja. Awan? Awan? Awan? Nama itu berkecamuk di otakku. Aku khawatir waktu latihan yang singkat siang ini bisa menjamin kesuksesan penampilan duetku dengan Awan besok. Aku kepalkan kedua telapak tanganku erat. Aku putuskan untuk menghentikan langkah uring-uringanku dan duduk di samping Rio.
            “Io, aku deg-degan banget nih...” keluhku pada Rio.
            “Haa... Apa bon? Ha..” Rio tiba-tiba tertawa.
            “Loh kok malah ketawa io...” protesku. “Aku khawatir tidak bisa berduet dengan baik...” lanjutku. “Huhh...”
            “Ahhh... Sudahlah kawan! Aku yakin kok dengan kemampuanmu... Kamu pati bisa bon!” ucap Rio menyemangati dan menenangkanku.
            Ucapan Rio sedikit menenangkan perasaanku. Kuputuskan mengeluarkan biolaku tapi hanya kuusap-usap saja. Aku belum cukup tenang untuk memainkan nada-nadanya. Sementara teman-temanku yang lain sibuk mempersiapkan dekorasi panggung untuk dipasang malam ini.
            Pikiranku terus melayang-layang. Kemungkinan-kemungkinan yang berpotensi terjadi esok hari berkecamuk dalam pikiranku. Dudukku mulai tidak tenang lagi. Aku beranjak dan memutuskan keluar rumah untuk menghirup udara segar. Keadaan di dalam sudah terlalu sesak untuk menenagkan pikiranku.
            “Bon.. Bapak mohon maaf...” suara pak Dodi tiba-tiba menngagetkanku yang tengah melamun di kursi teras.
            “ Ada apa pak? Kenapa?” tuntutku.
            “Awan tidak bisa ikut latihan bersama hari ini... Tadi ia menelepon, katanya dia menunda keberangkatannya sampai besok pagi” lanjut pak Dodi.

Senin, 03 Oktober 2011

pikel ubi ganyong


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Ganyong (Canna edulis Kerr)  adalah tanaman yang cukup potensial sebagai sumber karbohidrat, maka sudah sepatutnya dikembangkan. Hasilnya selain dapat digunakan untuk penganekaragaman menu rakyat, juga mempunyai aspek yang penting sebagai bahan dasar industri. Ganyong (Canna edulis Kerr) adalah tanaman herbal yang berasal dari Amerika Selatan. Rhizoma atau umbinya bila sudah dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya terlebih dahulu, atau untuk diambil patinya. Saat panen umbi, sangat tergantung dari daerah tempat menanamnya. Di dataran rendah sudah bisa dipanen pada umur 6-8 bulan, sedang di daerah yang hujannya sepanjang tahun, waktu panennya lebih lama, yaitu pada umur 15-18 bulan. Dewasanya umbi biasanya ditandai dengan menguningnya batang dan daun tanaman.
Pikel adalah hasil pengolahan buah atau sayuran dengan menggunakan garam dan diawetkan dengan asam, dengan atau tanpa penambahan gula dan rempah-rempah sebagai bumbu (Vaughn, 1982).  Pengolahan bahan nabati (sayur, buah dan umbi) menjadi produk pikel dapat memberikan nilai tambah ekonomi pada bahan nabati tersebut.  Selain itu, daya tahan simpan bahan nabati menjadi lebih lama, dapat menghasilkan cita rasa yang lebih disukai dan pengangkutannya lebih mudah.  Pikel merupakan produk yang potensial dalam memberikan sumbangan yang cukup besar bagi negara bila ditingkatkan ekspornya ke mancanegara (Rahayu et al., 2000).  Beberapa penelitian tentang pikel yang pernah dibuat misalnya pikel ketimun (Yoo et al., 2006; Diaz et al., 2007; dan Maruvada dan McFeeters, 2009), pikel wortel (Wulan, 2004 dan Joshi et al., 2007), pikel kubis Cina (Ji et al., 2009), pikel carambola (Francis dan Badrie, 2007), pikel pepaya (Vongsawasdi et al., 2000), pikel lada hijau (Palgunadi, 1996), jamur merang (Syaiful, 1996), dan pikel rebung betung (Subagia, 1994).  Ganyong merupakan salah satu komoditi yang perlu dicoba untuk diolah menjadi pikel.  Sampai saat ini penelitian pikel ganyong masih terbatas.  Panda et al. (2007) pernah melakukan penelitian tentang pembuatan pikel ubi jalar kuning dengan penambahan BAL akan tetapi pikel ganyong secara spontan sepengetahuan kami belum dilakukan
Konsentrasi garam dan lama fermentasi merupakan faktor penting yang mempengaruhi karakteristik pikel yang dihasilkan.  Dalam hal ini, masalah utama yang dihadapi adalah belum diketahui konsentrasi garam dan lama fermentasi yang tepat untuk menghasilkan pikel ganyong dengan sensori disukai.
B.       Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang diatas, maka masalah-masalah yang dapat dirumuskan adalah :
1.      Apakah ganyong bisa dimanfaatkan menjadi pikel?
2.      Berapakah konsentrasi garam yang tepat untuk menghasilkan kualitas pikel ganyong terbaik ?
3.      Bagaimanakah menentukan lama fermentasi yang tepat terhadap kualitas pikel ganyong ?

C.       Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.    Mengetahui apakah ganyong bisa dibuat menjadi pikel.
2.    Mengetahui konsentrasi garam yang tepat untuk menghasilkan kualitas pikel terbaik
3.    Mengetahui lama fermentasi yang tepat untuk menghasilkan kualitas pikel ganyong terbaik.
D.      Manfaat Penelitian
Penelitian tentang pemanfaatan ganyong bahan alternatif pembuatan pikel. Adapun manfaat-manfaat tersebut adalah:
1.    Bagi peneliti, dapat menganalisis bagaimana proses pembuatan pikel ganyong serta tingkat keefektifitasan untuk pemberian konsentrasi dan lama fermentasi yang tepat untuk menghasilkan pikel yang terbaik.
2.    Bagi akademisi : dapat dijadikan sebagai sumber informasi ataupun referensi bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Disamping itu juga dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan untuk yang membacanya.
3.    Bagi masyarakat : penelitian ini diharapkan akan berkontribusi dalam memberikan informasi dan pemahaman mengenai proses pembuatan pikel dengan bahan baku ganyong.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Ganyong (Canna edulis Kerr) 

Klasifikasi Tanaman Ganyong (Canna edulis Kerr) 
Divisi               : Spermatophyta
Sub Divisi       : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Zingeberales
Famili              : Cannaceae
Genus              : Canna
Spesies            : Canna edulis Ker.
Tanaman ini tetap hijau sepanjang hidupnya. Warna batang, daun dan pelepahnya tergantung pada varietasnya, begitu pula warna sisik umbinya. Tingginya 0,9-1,8 meter. Sedang apabila diukur lurus, panjang batangnya bisa mencapai 3 meter. Panjang batang dalam hal ini diukur mulai dari ujung tanaman sampai ujung rhizoma atau sering disebut dengan umbi.

  1.  Morfologi
Bentuk tanaman ganyong adalah berumpun dan merupakan tanaman herba, semua bagian vegetatif yaitu batang, daun serta kelopak bunganya sedikit berlilin. Tanaman ini tetap hijau disepanjang hidupnya, di akhir hidupnya, dimana umbi telah cukup dewasa, daun dan batang mulai mengering. Keadaan seperti ini seakanakan menunjukkan bahwa tanaman mati, padahal tidak. Karena bila hujan tiba maka rimpang atau umbi akan bertunas dan membentuk tanaman lagi. Tinggi tanaman ganyong antara 0.9- 1,8 meter. Bahkan di Queensland dapat mencapai 2,7 meter. Sedang untuk daerah Jawa, tinggi tanaman ganyong umumnya 1,35 – 1,8 meter. Apabila diukur lurus, maka panjang batang bisa mencapai 3 meter. Panjang batang dalam hal ini di ukur mulai dari ujung tanaman sampai ujung rhizoma atau yang sering disebut dengan umbi. Apabila diperhatikan ternyata warna batang, daun, pelepah daun dan sisik umbinya sangat beragam. Adanya perbedaan warna ini menunjukkan varietasnya.
  1.  Varietas Ganyong
Di Indonesia dikenal dua kultivar atau varietas ganyong, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah ditandai dengan warna batang, daun dan pelepahnya yang berwarna merah atau ungu, sedang yang warna batang, daun dan pelepahnya hijau dan sisik umbinya kecoklatan disebutdengan ganyong putih. Dari kedua varietas tersebut mempunyai beberapa berbedaan sifat, sebagai berikut :
Ganyong Merah 
  •    Batang lebih besar 
  •    Agak tahan kena sinar dan tahan kekeringan Sulit menghasilkan biji 
  •    Hasil umbi basah lebih besar tapi kadar patinya rendah 
  • Umbi lazim dimakan segar (direbus)
Ganyong Putih
  • .                 Lebih kecil dan pendek 
  •          Kurang tahan kena sinar tetapi tahan kekeringan 
  •                   Selalu menghasilkan biji dan bisa diperbanyak menjadi anakan tanaman
  •      .      Hasil umbi basah lebih kecil, tapi kadar patinya tinggi
  •      .      Hanya lazim diambil patinya.

3.    Manfaat  Ganyong
Umbi ganyong kita konsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi. Kandungan karbohidrat ganyong memang tinggi, setara dengan umbi-umbi yang lain, namun lebih rendah daripada singkong, tetapi karbohidrat umbi dan tepung ganyong lebih tinggi bila dibandingkan dengan kentang, begitu juga dengan kandungan mineral kalsium, phosphor dan besi. Dengan demikian ganyong sangat tepat bila digunakan untuk keragaman makanan sebagai pengganti beras.
B.       Pikel
Fermentasi berperan penting dalam proses pengawetan pangan.  Fermentasi asam laktat merupakan salah satu metode dalam proses pengawetan makanan yang dikombinasikan dengan garam untuk menyeleksi mikroorganisme.  Jika proses ini diaplikasikan pada sayur dan buah, maka disebut pikel (Joshi et al., 2009).  Menurut Kamus Inggris Indonesia, pikel berarti acar, asinan, dan asam-asaman (Echols dan Shadily, 2000).  Acar adalah sayuran atau buah yang diawetkan dalam larutan garam yang kemudian dilakukan fermentasi asam laktat (Astuti, 2006). 
Pikel dapat dikelompokkan berdasarkan kandungan garam dan proses persiapan serta pembuatannya.  Menurut Vaughn (1982) pikel terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
1.        Dill pickle yaitu pikel yang difermentasi dalam larutan berkadar garam rendah dan diberi daun dan rempah-rempah sebagai penambah citarasa, pikel ini dapat langsung dikonsumsi tanpa harus diolah lagi.
2.      Salt stock pickle yaitu pikel yang difermentasi dalam larutan berkadar garam tinggi, dapat langsung dikonsumsi atau dilakukan proses desalting supaya tidak terlalu asin  dan diolah kembali menjadi pikel manis atau pikel asam.
3.      Dry salting pickle yaitu pikel yang difermentasi menggunakan kristal garam dengan konsentrasi rendah.

Menurut Archuleta (2009), pikel dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
1.      Pikel yang difermentasi (fermented pickles), sering disebut brine pickles, difermentasi dan diawetkan sekitar 3 minggu.
2.      Fresh pack, pembuatan pikel secara cepat dengan tidak diasinkan atau diasinkan hanya untuk beberapa jam, kemudian dikeringkan dan dikombinasikan dengan cuka buah dan bumbu-bumbu.
3.      Pikel buah (fruit pickes), buah dipanaskan dalam sirup yang diasamkan dengan cuka buah atau jus lemon.
4.      Relishes, potongan atau hancuran buah atau sayur diberi bumbu dan dimasak dengan cuka buah.

Sedangkan menurut Anonim (2009a), pikel dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Pikel yang diasinkan atau yang difermentasi (Brined or fermented pickles)
Pikel ini dibuat dengan cara direndam dalam larutan garam selama 3 sampai 6 minggu.  Selama perendaman, bakteri asam laktat yang tahan terhadap garam akan mengubah karbohidrat dalam bahan baku menjadi asam laktat.  Adanya asam laktat dapat membuat pikel menjadi awet dan dapat memberikan aroma yang baik.
2.      Pikel yang dibuat secara cepat (Fresh pack pickles)
Pikel yang dibuat secara cepat ini sangat populer. Pikel ini biasanya direndam dalam larutan garam hanya beberapa jam.
Pada umumnya pikel terbuat dari buah, sayur, atau umbi dengan menggunakan bahan garam NaCl dan diawetkan dengan asam, dengan atau tanpa penambahan gula dan rempah-rempah sebagai bumbu (Vaughn, 1982). 
Beberapa faktor dapat mempengaruhi mutu pikel diantaranya persiapan bahan baku pikel, konsentrasi garam, lama fermentasi.
1.      Persiapan bahan baku
Persiapan bahan baku juga dapat mempengaruhi mutu pikel.  Jika bahan baku terlalu lama disimpan sebelum difermentasi dapat menyebabkan bintik-bintik kecil coklat pada pikel.  Tingkat kematangan bahan baku juga harus diperhatikan karena bahan baku yang belum matang misalnya pada pikel bawang putih dapat menyebabkan pikel menjadi berwarna biru atau ungu (Anonim, 2009b).
2.      Konsentrasi garam
Konsentrasi garam berperan penting dalam proses pembuatan pikel seperti menyeleksi mikroorganisme yang diinginkan untuk tumbuh dan menghambat mikroorganisme yang tidak diinginkan.  Konsentrasi garam yang terlalu rendah dapat menyebabkan mikroorganisme yang tidak diinginkan dapat tumbuh, menyebabkan kerusakan pada pikel seperti menyebabkan pikel ketimun menjadi gelap dan bau tidak enak.  Konsentrasi garam yang terlau tinggi dapat membunuh bakteri asam laktat (Anonim, 2009a).  Selain konsentrasi garam, jenis garam juga mempengaruhi mutu pikel.  Pikel yang difermentasi atau yang tidak difermentasi disarankan untuk menggunakan garam baik yang beriodium atau tidak beriodium.  Garam yang mempunyai densitas bervariasi (flake salt) tidak direkomendasikan dalam pembuatan pikel.  Sedangkan garam yang yang dikurangi kandungan ion Na+ nya (Lite salt) dapat digunakan untuk membuat pikel yang diproses cepat (Fresh pack pickles), tetapi tidak disarankan penggunaan garam ini untuk pikel yang difermentasi (Anonim, 2000).
3.      Lama fermentasi
Lama fermentasi berpengaruh terhadap total asam dan pH akhir yang dihasilkan, semakin lama difermentasi maka konsentrasi asam meningkat terutama asam laktat sehingga pH rendah atau turun (Wulan (2004), Subagia (1996), dan Palgunadi (1996)).  Jika fermentasi terlalu cepat dapat menyebabkan pikel mengapung dan jika fermentasi telalu lama dapat menyebabkan pikel menjadi berkerut atau kisut (Anonim, 2009b).
4.      Gula
Larutan gula yang ditambahkan ke dalam medium pikel biasanya ditujukan untuk penambahan citarasa, mempertahankan warna dan bentuk buah.  Larutan gula ini akan mengisi ruangan yang kosong antar pikel yang satu dengan yang lain di dalam medium larutan (Desrosier, 1988).  Adanya gula dalam medium menyebabkan difusi oksigen ke dalam bahan akan berkurang karena kontak langsung oksigen dengan produk terhalang oleh molekul-molekul gula, sehingga perubahan warna dapat dihindari (Winarno, 1988).  Penambahan gula yang terlalu banyak dapat menyebabkan pikel menjadi berkerut atau kisut (Anonim, 2009b), sedangkan penambahan gula pada konsentrasi rendah akan menginisiasi pertumbuhan mikroba.
A.      Hipotesis
1.      Konsentrasi garam yang semakin meningkat sampai titik tertentu menyebabkan penurunan pH, serta kualitas pikel yang lebih baik.
  1. Lama fermentasi yang semakin meningkat sampai titik tertentu menyebabkan penurunan pH, serta kualitas pikel yang lebih baik.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.  Jenis Penelitian
Berdasarkan tujuan dalam memperoleh data, jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksprimen merupakan penelitian dengan melakukan percobaan-percobaan untuk mencari kebenaran hipotesa. Percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah percobaan pembuatan pikel ganyong, serta menentukan konsentrasi garam dan lama fermentasi yang tepat.

B.  Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada minggu ke-2 Maret samapai dengan minggu ke-2 April 2011, bertempat di Laboratorium IPA SMA Negeri 1 Malingping.
C.  Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder yang diperlukan merupakan data-data pendukung yang menjadi bahan rujukan dan panduan, seperti informasi mengenai Ganyong (Canna edulis Kerr)   yang merupakan objek penelitian dan pengetahuan mengenai pikel. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka dan wawancara dengan informan yang dianggap memahami permasalahan yang sedang dikaji, seperti pembimbing, guru mata pelajaran dan masyarakat.
Sedangkan data primer diperoleh melalui pendekatan eksperimental. Pendekatan eksperimental ini merupakan teknik pengumpulan data melalui percobaan-percobaan dalam mencari kebenaran hipotesa yang telah dirumuskan. Kemudian teknik lain yang digunakan yaitu dokumentasi melaui foto-foto saat penelitian.

D.  Bahan dan Alat


Bahan baku utama yang digunakan adalah ganyong.  Bahan tambahan yang digunakan adalah garam dan gula putih.  Bahan kimia yang digunakan adalah aquades, garam NaCl untuk larutan pengencer, aquades, dan bahan-bahan lain.
Peralatan yang digunakan antara lain pisau, tabung reaksi, Erlenmeyer, labu ukur, termometer, cawan petri, talenan, kompor gas, pengkukus nasi, pipet, blender , pH-meter, timbangan, corong, saringan, ember, botol dan alat-alat lain.

E.       Metode Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga perlakuan.  Faktor pertama adalah konsentrasi garam (G) yang terdiri dari empat taraf, yaitu 0%, 1%, 3%, dan 6%.  Faktor kedua adalah lama fermentasi (L) yang terdiri dari  taraf, yaitu 1 hari, 3 hari, dan 6 hari.  Satu unit percobaan menggunakan volume larutan garam sebanyak 110 ml dan ganyong sebanyak 40 gram.  Pengamatan dilakukan terhadap pH, warna, rasa, dan aroma secara periodik 3 hari sekali. 
Data yang diperoleh diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tuckey.  Analisis sidik ragam digunakan untuk mendapatkan penduga ragam galat dan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan.  Data total pH, warna, rasa, dan aroma.

F,    Pelaksanaan Penelitian

1.    Pembuatan larutan garam
Garam ditimbang sebanyak 0%, 1%, 3%, dan 6% dari volume aquadest  yang digunakan (110 mL) dengan penambahan gula sebanyak 1% untuk setiap konsentrasi garam.  Garam dan gula tersebut lalu dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 110 mL dan ditambahkan aquades hingga tanda tera.  Kemudian 3 Erlenmeyer dipanaskan di dalam pengukus selama 9 menit (suhu ± 67,5oC).  Lalu didiamkan selama ± 10 menit dalam wadah berisi air hingga suhunya mencapai 35oC sehingga larutan garam siap untuk digunakan.  Satu Erlenmeyer 110 mL berisi larutan garam dapat digunakan untuk 1 botol berukuran 150 mL

2.      Proses pembuatan pikel ganyong
Proses pembuatan pikel ganyong ini mengikuti prosedur oleh Panda et al. (2007).  Ganyong dikupas kulitnya, dipotong dadu (1x1x1 cm).  Sebanyak 40 g dimasukkan ke dalam botol 150 mL yang telah disterilisasi.  Kemudian ditambahkan larutan garam yang telah disiapkan.  Perbandingan ganyong dan larutan garam adalah 40 g ganyong:110 mL larutan garam.  Sebanyak 4 botol berisi potongan ganyong dan larutan garam dimasukkan ke dalam pengukus selama 10 menit hingga suhu akhir mencapai ± 71-72oC.  

G.      Pengamatan

1.    pH dan total asam
Pengamatan nilai pH dilakukan dengan menggunakan pH meter.  Pikel sebanyak 6 potongan ganyong dan cairannya sebanyak 30 mL diblender.  Kemudian disaring dengan kapas hingga didapat ekstraknya.  Ekstrak tersebut lalu diukur pH nya dengan pH meter                                                                                                                                                                             
2.    Uji organoleptik
Uji organoleptik dilakukan hanya pada hari ke 1, 3 dan 6.  Penilaian organoleptik dilakukan terhadap pH, warna, rasa, aroma dan penerimaan keseluruhan (Nawansih dan Nuraini, 2005). 

H.  Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisa data hasil penelitian ini adalah teknik analisis deskripsi, yaitu dengan melakukan interpretasi terhadap data-data yang diperoleh dari percobaan dengan bantuan tabel. Data hasil pengamatan dicatat dalam sebuah tabel pengamatan. Kemudian setiap data tersebut ditelaah untuk kemudian disusun secara sistematis, logis dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya agar mudah dibaca dan diinterpretasikan.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.    Penyajian Data Hasil Penelitian
A.       pH
Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa perlakuan konsentrasi garam dan lamanya fermentasi dapat mempengaruhi nilai pH. Hasil uji rata-rata terhadap pH terdapat perbedaan untuk pemberian kadar garam dan lama fermentasi pada masing-masing percobaan, dapat dilihat pada tabel berikut :
Bagian I (pemberian konsentrasi garam  0%)
Hari
pH
1
7,2
3
6,8
6
6,5

Bagian II (pemberian konsentrasi garam  1%)
Hari
pH
1
6,5
3
6,0
6
3,9

Bagian III(pemberian konsentrasi garam  3%)
Hari
pH
1
6,7
3
6,0
6
4,2


Bagian IV(pemberian konsentrasi garam  6%)
Hari
pH
1
6,5
3
5,5
6
4,5

Meningkatnya konsentrasi garam mempengaruhi nilai pH pada berbagai lama fermentasi.  Hal ini diduga pada konsentrasi garam 0% sampai 6% terdapat perbedaan terhadap perubahan pH yang dihasilkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh variasi bakteri asam laktat yang tumbuh pada konsentrasi garam 1% sampai 6% relatif berbeda.  Menurut Stamer (1979), bakteri asam laktat yang toleran terhadap garam 1% sampai 6% adalah Lactobacillus thermobacterium, Streptococcus lactis, dan Lactobacillus cremoris.  Garam yang ditambahkan pada media akan berperan sebagai penghambat selektif mikroorganisme tertentu yang tidak diinginkan pertumbuhannya dalam pembuatan pikel, sedangkan jenis mikroorganisme pembentuk asam laktat dapat tumbuh cepat dengan adanya garam.
Gambar 3. Pengaruh lama fermentasi terhadap nilai pH pikel ganyong pada berbagai kadar  garam
Penurunan pH pikel dari hari 0 sampai hari ke 6 (setelahnya relatif konstan) karena semakin lama fermentasi maka semakin banyak bakteri asam laktat (BAL) yang tumbuh terutama jenis homofermentatif sehingga total asam meningkat yang diikuti penurunan pH. 
B.       Organoleptik
1.    Rasa
Hasil uji rata-rata organoleptik terhadap rasa terdapat perbedaan untuk pemberian kadar garam dan lama fermentasi pada masing-masing percobaan, dapat dilihat pada tabel berikut :
Bagian I (pemberian konsentrasi garam  0%)
Hari
Rasa
1
tawar 
3
 Sedikit getir
6
 Sangat getir

Bagian II (pemberian konsentrasi garam  1%)
Hari
Rasa
1
Tawar
3
getir
6
Sedikit getir

Bagian III (pemberian konsentrasi garam  3%)
Hari
Rasa
1
tawar 
3
Sedikit getir
6
getir 

Bagian IV (pemberian konsentrasi garam  6%)
Hari
Rasa
1
Tawar
3
Sedikit asam
6
Asam

Gambar 13. Hubungan antara konsentrasi garam terhadap rasa pikel ganyong
2.    Aroma
Hasil uji rata-rata organoleptik terhadap aroma terdapat perbedaan untuk pemberian kadar garam dan lama fermentasi pada masing-masing percobaan, dapat dilihat pada tabel berikut :
Bagian I (pemberian konsentrasi garam  0%)
Hari
Aroma 
1
Tidak beraroma 
3
 Sedikit bau busuk
6
 Sangat bau busuk

Bagian II (pemberian konsentrasi garam  1%)
Hari
Aroma 
1
Tidak beraroma  
3
 Bau busuk
6
 Sedikit bau busuk

Bagian III (pemberian konsentrasi garam  3%)
Hari
Aroma 
1
Tidak beraroma 
3
  Bau busuk
6
 sedikit bau asam

Bagian IV (pemberian konsentrasi garam  6%)
Hari
Aroma
1
Tidak beraroma 
3
 Sedikit bau busuk 
6
 Bau asam

Gambar 14. Hubungan antara konsentrasi garam terhadap aroma pikel ganyong

3.    Warna
Hasil uji rata-rata organoleptik terhadap warna terdapat perbedaan untuk pemberian konsentrasi garam dan lama fermentasi pada masing-masing percobaan, dapat dilihat pada tabel berikut :
Bagian I (pemberian konsentrasi garam  0%)
Hari
Warna  
1
Bening kecoklatan 
3
Putih kecoklatan
6
 Putih pekat

Bagian II (pemberian konsentrasi garam  1%)
Hari
Warna  
1
Bening kecoklatan 
3
 Putih kecoklatan 
6
 Putih kecoklatan 

Bagian III (pemberian konsentrasi garam  3%)
Hari
Warna 
1
 Bening kecoklatan
3
Putih sedikit coklat 
6
 Putih kecoklatan

Bagian IV (pemberian konsentrasi garam  6%)
Hari
Warna 
1
Bening kecoklatan 
3
Putih kecoklatan
6
 Putih sedikit coklat

Gambar 15. Hubungan antara konsentrasi garam terhadap warna pikel ganyong

2.        Hasil Penelitian
Konsentrasi garam berpengaruh terhadap sifat kimia dan mikrobiologi  oleh karena itu perlakuan konsentrasi garam terbaik didasarkan pada sifat organoleptik, sedangkan lama fermentasi terbaik berdasarkan sifat kimia dan mikrobiologi.  Analisa organoleptik  pada penelitian ini dilakukan pada hari ke 1, 3 dan 6, sedangkan lama fermentasi terbaik pada hari ke 6.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat organoleptik meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam. Hasil organoleptik  tertinggi diperoleh pada konsentrasi garam 6% dan lama fermentasi 6 hari.




                                                            BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Umbi ganyong dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan pikel, hal ini telah dibuktikan dari hasil penelitian yang telah kami (penulis) lakukan.
2.      Pembuatan Pikel umbi ganyong dengan konsentrasi 6% merupakan pikel dengan kualitas yang lebih baik.
  1. Lama fermentasi merupakan faktor penting lain yang harus diperhatikan karena akan mempengaruhi jumlah asam laktat yang dihasilkan sehingga berpengaruh terhadap karakteristik pikel seperti derajat keasaman (pH), rasa, aroma, dan warna pikel.  Pengaruh lama fermentasi tampak pada hasil penelitian dengan lama fermentasi terbaik adalah 6 hari.

B.       Saran
1.       Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap pemakaian konsentrasi garam yang lebih tinggi (>6%).
  1. Masyarakat tidak perlu takut dalam memanfaatkan tanaman yang ada di sektarnya, khususnya pada pemanfaatan pada tumbuhan umbi ganyong.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim.     2007.Pikel Ketimun. http://www.adevpm.com/pbooks.html (30 Maret 2011)
Anonim.     2006. Ganyong (Canna Edulis Kerr). http://www.deptan.go.id/ ditjentan/ admin/rb/Ganyong.pdf.l [Diakses pada tanggal 30 Martet 2011].
Anonim.     2007. Pikel Bengkuang. http://software-komputer-blogspot.com/2007/08/ pikel.html/ [Diakses pada tanggal 5 April 2011].
Zubaidah,E. 1998. Teknologi Pangan Fermentasi. UNIBRAW; Malang